Chapter 17: Old Friends Reunion

Pasukan AVRO saat ini berjumlah tujuh ratus empat puluh dua orang. Itu baru yang akan berangkat dari sekretariat. Enam puluh Vog lain masih berpatroli di seluruh penjuru desa untuk mengevakuasi warga. Sepuluh Vog mata-mata terbang di sekitar pasukan zombie itu untuk menganalisa keadaan. Tidak tahu apakah mereka masih aman atau sudah tertangkap oleh musuh. Delapan ratus dua belas Vog ini seluruhnya akan turun dalam peperangan menghadapi dua ribu zombie yang tidak bisa dilumpuhkan. Meskipun begitu, kami sudah mengatur strategi untuk menghadapi mereka. Satu-satunya cara yaitu dengan membuat mereka tidak bisa bergerak. Metodenya bisa dengan mengikat mereka, memenggal anggota gerak mereka, atau yang paling brutal, melemparkan dinamit sehingga tubuh mereka tercerai-berai. Karena pertempuran ini berlangsung di malam hari, maka kami membawa obor untuk penerangan.


Gudi memimpin pasukan besar ini. Dia bersenjatakan pedang Naga Hitam. Pedang tersebut berwarna hitam pekat, dengan ukiran naga pada kedua sisinya. Bobotnya mencapai sepuluh kilogram. Konon, pedang itu dapat memenggal sepuluh kepala musuh dalam sekali ayunan. Postur tubuh Gudi yang tinggi besar membuatnya cocok menggunakan pedang itu. Aku belum pernah melihatnya menggunakan pedang itu, sebab sejak pertama aku bergabung dengan AVRO, Gudi tidak pernah turun langsung dalam patroli maupun pertempuran. Inilah kali pertama aku melihat Gudi turun dalam pertempuran, sekaligus menggunakan pedang besar itu.

“KOMANDO AKU AMBIL ALIH! SEMUA PASUKAN, MAJU!” teriaknya memberikan komando.

Kami semua segera terbang dengan kecepatan tinggi menuju zombie-zombie itu. Ketika mendekati hutan raya, kami bertemu dengan salah satu Vog mata-mata.

“Mereka berada di arah selatan hutan ini!” lapornya.

“SEMUA PASUKAN, TERBANG KE ARAH SELATAN HUTAN RAYA!” teriak Gudi kembali.


Beratus-ratus manusia burung terbang dengan cepat ke arah selatan hutan raya. Dalam waktu singkat kami menemukan musuh. Sepuluh orang Vog mata-mata yang telah berada disini sebelumnya segera bergabung dengan pasukan.

“Apakah kau yang bernama Valen Norka?” tanya Gudi, kepada lelaki yang memimpin zombie.

“Hebat sekali. Kau pasti pimpinan AVRO. Darimana kau mengetahui namaku? Aku bahkan tidak memberitahu namaku kepada anak buahmu yang berhasil selamat dariku beberapa saat sebelum ini,” katanya tenang.

“Karena aku ada disini,” ujar Letu secara tiba-tiba.

Sejenak Valen memperhatikan sosok Letu. Kegelapan malam membuatnya tidak langsung mengenali sosok itu. Tapi sepertinya itu tidak berlangsung lama.

“Begitu rupanya. Kau masih tetap cerdas seperti dulu. Kau bahkan masih ingat tentang konsep pembuatan zombie yang hampir setiap hari kuceritakan dulu. Kau bilang aku gila, stres, memiliki kelainan jiwa, tapi aku tidak pernah membencimu. Tapi sekarang kau lihat, aku memiliki lebih dari dua ribu zombie disini. Aku bukanlah orang gila seperti yang kau bilang. Aku adalah jenius, sama sepertimu. Semua yang kurencanakan dulu telah berhasil kuwujudkan, Letu!” ujarnya.

“Aku benar-benar tidak menyangka kau tetap melanjutkan ide gilamu itu. Seharusnya dulu kau tidak dicakar beruang,” kata Letu.

“HAHAHA! Ternyata kau masih ingat penyebab munculnya ide itu! Kau benar-benar sahabatku!” ujarnya sambil tertawa keras.

Aku berusaha untuk memperhatikan pipi kanan Valen. Ternyata benar, terdapat tiga bekas luka cakaran yang cukup besar. Satu luka hampir mengenai matanya, sedangkan yang dua lagi mengenai sebagian kecil hidungnya.

“Beruang itu mencakar wajahku tanpa perasaan. Untung saja ayahku segera datang dan menghadapinya. Ia berhasil membunuh beruang itu meskipun ia mengalami pendarahan yang hebat. Namun pada akhirnya ia tetap mati kehabisan darah. Aku merasa berhutang nyawa kepadanya, sebab jika ia tidak segera datang, mungkin aku akan mati di tangan beruang itu. Muncullah ideku untuk menghidupkan ayah kembali. Namun kau justru mengatakan ideku itu gila. Sungguh kau tidak memiliki perasaan, Letu!” ujar Valen kembali.

“Bagaimana kau melakukannya, Valen?” tanya Letu.

“HAHAHA! Dulu kau menentang ideku ini, tapi sekarang kau malah menanyakan bagaimana caranya! Sungguh memalukan dirimu, Letu! Aku tidak akan memberitahumu bagaimana caraku menggerakkan mayat-mayat ini sesuai kehendakku. Mungkin kau tidak sepenuhnya salah, karena aku memang tidak mungkin menghidupkan mereka kembali. Tapi sekurang-kurangnya aku bisa menjadikan mereka sebuah mesin biologis yang selalu patuh dengan perintahku!” jawabnya.

“Aku malah berpikir kaulah yang tidak berperasaan, menggunakan mayat-mayat itu untuk menjadi pelayanmu. Sudahlah, hentikan pembicaraan ini. Kapten, kuserahkan kepadamu!” ujar Letu.

“PASUKAN, JALANKAN RENCANA A-1!” seru Gudi.


Sebagian Vog yang bersenjatakan pedang, pisau, tombak, kapak, dan gada berlari dengan cepat ke arah zombie tersebut. Sebagian Vog lain yang bersenjatakan panah dan crossbow terbang untuk melakukan penembakan dari udara. Pasukan di darat dipimpin langsung oleh Gudi, sedangkan pasukan di udara diwakili oleh Osen Iku, seorang Vog bersenjatakan crossbow yang cukup terlatih.

“Zombie, serang mereka!” perintah Valen kepada zombie-zombienya.

Zombie-zombie bersenjatakan pedang, pisau, tombak, kapak, dan gada segera berlari menuju pasukan darat AVRO. Zombie-zombie yang bersenjatakan panah dan crossbow terbagi atas dua kelompok. Satu kelompok mengarahkan sasarannya ke arah pasukan darat, kelompok lain mengarahkan sasarannya ke arah pasukan udara. Aku yang tergabung ke dalam pasukan darat, melakukan terbang rendah untuk menambah kecepatanku. Dengan kecepatan tinggi aku mengayunkan pedang Bintang Merah ke leher seorang zombie. Pedangku berhasil melewati lehernya, membuat kepalanya terpisah dari badannya. Tidak puas hanya dengan satu zombie, aku kembali menebas zombie-zombie lainnya. Sebanyak lima zombie berhasil kupenggal kepalanya. Tiga zombie lain kutebas tangannya, sedangkan satu zombie kehilangan kakinya. Aku memerhatikan reaksi dari mereka. Zombie yang terpenggal kepalanya tidak bisa menggerakkan tubuhnya lagi, hanya saja mata mereka masih bisa berkedip layaknya orang hidup. Sedangkan zombie yang terputus anggota tubuh kecuali kepalanya, masih bisa menggerakkan anggota tubuh yang lain. Aku mengambil kesimpulan, mereka masih sama seperti manusia biasa. Seluruh aktivitasnya dikendalikan oleh otak. Di tengah berlangsungnya pertempuran, terdengar teriakan dari atas.

“PASUKAN, JALANKAN RENCANA A-2!” teriak Osen.

Kami yang sedang bertempur di darat, dengan cepat terbang menjauh dari mereka. Kami meninggalkan zombie-zombie yang sedang terpusat di tengah medan pertempuran. Tiba-tiba dari segala penjuru muncul enam puluh Vog yang terbang dengan kecepatan tinggi. Mereka semua membawa dinamit di tangannya. Lalu secara ganti berganti mereka menjatuhkan dinamit-dinamit itu tepat di atas kumpulan zombie itu. Enam puluh ledakan dinamit ini cukup efektif untuk mengurangi jumlah zombie tersebut. Sekitar lima ratus zombie tercerai-berai akibat ledakan ini. Tapi serangan belum selesai. Pasukan darat melakukan terbang rendah berkecepatan tinggi untuk menyerang zombie-zombie yang selamat dari ledakan itu. Memanfaatkan kebingungan yang dihasilkan ledakan itu, kami dengan mudah menebas sekitar empat ratus kepala zombie.

“Berhasil! Kita mengurangi hampir setengah jumlah musuh!” sorakku.


Pertempuran kembali dilanjutkan. Beberapa orang Vog gugur dalam pertempuran ini. Tapi jumlahnya masih terlalu kecil bila dibandingkan dengan jumlah zombie yang berhasil kami lumpuhkan. Dalam keadaan seperti itu, Valen masih menunjukkan ekspresi yang tenang. Ia terlihat seperti sudah mempunyai solusi untuk mengatasi masalah yang dialaminya.

“Strategi yang bagus. Kalian memberikanku kejutan yang menarik, sehingga bisa menghabisi hampir setengah dari jumlah pasukanku. Aku berikan apresiasi yang tinggi untuk itu,” ujar Valen.

Aku mendengar ucapannya itu. Dia bahkan memberikan apresiasi kepada lawannya di dalam kondisi yang sangat terdesak itu.

“Dalam hidup, apabila kita menerima sesuatu, maka kita juga harus memberi kan?” ucapnya sambil tersenyum, tentu saja dengan suatu aura negatif.

Letu sepertinya menyadari maksud dari ucapan Valen. Tiba-tiba ekspresinya berubah menjadi tegang.

“Mungkinkah, ia sudah meramalkan kejadian ini?” gumam Letu terbata-bata.

“Zombie, jalankan rencana B!” seru Valen.

Tidak ada yang berubah setelah instruksi itu diberikan. Zombie-zombie itu tetap bertempur seperti sediakala. Tapi tiba-tiba muncul pisau-pisau dari bawah tanah. Pisau itu melukai kaki Vog yang sedang bertempur di darat. Akibatnya, Vog yang terluka menjadi lengah dan zombie di darat mengalahkannya dengan mudah. Gudi menyadari kondisi ini tidak baik bagi pasukan darat.

“SEMUA PASUKAN DARAT, TERBANG SEKARANG JUGA!” teriak Gudi.

Kami yang ada di darat segera terbang dan bergabung dengan pasukan udara. Valen kembali tersenyum dingin karena rencananya berjalan lancar.

“Kalian pikir aku hanya mempunyai dua ribu zombie? Aku masih punya zombie lain! Di bawah tanah, aku memiliki sekitar seratus zombie yang kubuat dari mayat penggali terowongan. Sedangkan di udara, aku mempunyai seratus lagi,” ujarnya.

Tiba-tiba dari dalam hutan terbanglah seratus orang Vog dengan ekspresi yang dingin. Dapat dipastikan bahwa mereka adalah zombie.

“Ia juga membuat zombie dari kalangan Vog! Orang ini benar-benar gila!”


to be continued


Chapter 18: The Real Genius

Chapter 16: Letu's Explanation

Dua ribu zombie itu mulai bergerak ke arah kami. Aku menyadari keadaan ini sangat merugikan bagi kami. Pertama, dari segi jumlah jelas kami kalah jauh. Kedua, zombie-zombie yang baru muncul tersebut memiliki persenjataan yang lebih lengkap dibandingkan sebelumnya. Ketiga, mereka tidak bisa mati, sedangkan kami bisa. Pandanganku kembali tertuju kepada lelaki yang mengendalikan zombie-zombie itu. Dia bahkan belum memperkenalkan siapa dirinya, selain hanya mengakui bahwa dialah yang mengirim surat ancaman tersebut. Tapi ini bukan waktunya untuk memikirkan semua itu. Aku tidak punya pilihan lain, selain mundur untuk saat ini.

“SEMUANYA, MUNDUR!” teriakku.

Kami segera membentangkan sayap untuk bersiap terbang. Namun, lelaki itu sepertinya telah siap mengantisipasi apapun yang akan kami lakukan.

“Pasukan pemanah, jangan biarkan mereka kabur!” perintahnya.

Sekitar tiga ratus zombie pemanah mengarahkan sasarannya kepada kami. Mereka benar-benar mematuhi apa yang diperintahkan lelaki itu tanpa membantah sedikitpun. Panah-panah pun terlepas dari busur yang mereka pegang, melesat dengan sangat cepat ke arah kami.

“Aaaarrrrggghhhh!”

Panah itu tepat mengenai salah seorang Vog. Ternyata tidak hanya selesai sampai disitu. Beratus-ratus panah yang melesat itu mengenai lima belas orang Vog lain. Aku beserta tiga orang Vog lain yang masih selamat, mengerahkan segenap kekuatan untuk terbang secepat mungkin dari tempat itu. Beruntung kami berhasil melarikan diri dari tempat itu.


Setelah kami merasa sudah cukup jauh dari mereka, kami mengurangi kecepatan terbang. Kami harus menemukan Vog lain untuk memberikan informasi tentang zombie-zombie itu kepada mereka. Saat sedang terbang, aku menyadari ada Vog lain yang terbang menghampiri kami.

“Kemana kalian? Dimana yang lain?” tanya Vog itu, yang ternyata adalah Letu.

“Empat orang Vog aku perintahkan untuk mengungsikan empat orang penduduk dari hutan raya. Sedangkan enam belas orang lain, sudah gugur,” jawabku.

“Gugur? Apa maksudmu? Kau sudah menemukan pengirim surat ancaman itu?” tanya Letu lagi.

“Sudah, dan mereka adalah suatu kelompok besar.”

“Berapa orang dari mereka?”

“Sekitar dua ribu orang, dan mereka bukan orang biasa.”

“Siapa mereka?”

“Mereka adalah zombie. Mereka tidak bisa mati. Bahkan mereka tidak merasakan sakit dan lelah sedikitpun.”

Letu terdiam. Sepertinya dia bukan diam karena tercengang, tapi karena ada sesuatu yang muncul di pikirannya.

“Fea, kita harus kembali ke sekretariat! Semua pasukan harus ditarik mundur. Ada sesuatu yang ingin kusampaikan kepada mereka semua!” seru Letu.

Aku menyetujui rencananya. Meskipun ia adalah anggotaku di bidang hubungan masyarakat, namun aku tahu bahwa dalam keadaan ini ia lebih berkapasitas dibandingkan denganku. Maka kami berlima terbang menuju sekretariat AVRO.


Tak lama kemudian kami sampai di sekretariat. Letu segera menghampiri mercusuar yang berada di sebelah barat sekretariat tersebut. Mercusuar setinggi sepuluh meter itu selalu menyala pada malam hari, dengan cahaya lampu berwarna putih. Selain sebagai pemandu jalan ke sekretariat di malam hari, mercusuar itu sendiri sebenarnya memiliki isyarat rahasia yang hanya dimengerti anggota AVRO. Pada mercusuar itu terdapat dua jenis lampu, yaitu lampu bercahaya putih dan merah. Jika lampu merah menyala, berarti ada suatu keadaan darurat, sehingga semua anggota harus kembali ke sekretariat sesegera mungkin. Tentu saja cara tersebut memang hanya berlaku untuk malam hari. Sedangkan jika terjadi keadaan darurat di siang hari, maka cara konvensional digunakan, yaitu dengan membuat sinyal berupa asap yang mengepul ke udara. Setelah memasuki ruang kontrol, Letu mengganti nyala lampu mercusuar itu menjadi merah. Gudi yang tetap berada di sekretariat, menyadari kedatangan kami dan segera menghampiri kami.

“Letu! Apakah telah terjadi keadaan darurat?” tanya Gudi.

“Benar Pak! Musuh telah ditemukan, tapi keadaannya benar-benar di luar dugaan. Kita harus berkumpul kembali, sebab ada yang akan kuceritakan!” jawab Letu.

“Seperti apa musuh yang kita hadapi?” tanyanya lagi.

“Akan kuceritakan nanti, setelah kita semua berkumpul.”


Beberapa menit kemudian, beratus-ratus Vog datang dari berbagai penjuru. Tanpa dikomando, mereka segera berbaris di sekitar mercusuar tersebut.

“Semuanya, dengarkan! Ada informasi penting yang akan disampaikan oleh Letu Rir!” seru Gudi.

Gudi memberikan kesempatan kepada Letu untuk berbicara. Ia menghela nafas sejenak, kemudian mulai berbicara.

“Kepala bidang hubungan masyarakat, Fea Edu, beserta beberapa Vog yang ikut bersamanya, telah menemukan musuh. Namun mereka kalah, baik dari segi jumlah maupun segi kekuatan!”

Semua Vog mendengarkan informasi itu dengan serius. Informasi ini tentu sangat penting. Tidak mungkin lampu darurat akan dinyalakan jika informasi ini tidak begitu penting.

“Fea Edu beserta pasukannya yang hanya berjumlah dua puluh tiga orang harus menghadapi dua ribu orang musuh yang mustahil untuk dikalahkan. Mereka adalah para zombie! Mereka adalah mayat yang dihidupkan kembali. Aku sendiri tidak tahu bagaimana cara mereka hidup kembali. Mereka tidak bisa merasakan sakit, lelah, maupun mati. Mereka tidak mempunyai akal pikiran dan perasaan. Semua yang mereka lakukan adalah perintah dari seseorang yang mengendalikan mereka,” terang Letu.

“Seseorang yang mengendalikan mereka? Aku belum menceritakan itu kepadamu, tapi kenapa kau bisa mengetahuinya?” tanyaku heran.

“Sebenarnya aku pun belum bisa memastikan apakah argumenku ini benar atau tidak. Tapi aku sendiri cukup yakin dengan hal itu,” jawabnya.

“Kenapa kau bisa yakin?”

“Karena aku pernah bersahabat dengan seseorang yang begitu percaya dengan adanya zombie.”


Jawaban dari Letu itu membuat kami semua tercengang. Bisa kutebak, lelaki yang mengendalikan zombie-zombie itu adalah orang yang dimaksudkan oleh Letu. Tapi aku sadar bahwa semua itu masih bersifat asumtif. Bisa jadi sahabat lama Letu itu memang begitu percaya dengan zombie, tapi lelaki yang mengendalikan zombie-zombie di hutan raya tadi adalah orang lain yang tidak ada sangkutpautnya dengan orang yang diceritakan Letu.

“Fea, apakah di pipi kanan orang itu terdapat tiga bekas luka cakaran?” tanya Letu.

“Entahlah, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena gelapnya malam. Satu-satunya yang bisa kulihat adalah warna pakaiannya,” jawabku.

“Apa kau punya informasi lain?” tanyanya.

“Informasi lain? Oh, aku ingat. Dia sempat berkata bahwa dia akan menjadi raja Askoriwimi, dengan warga yang mendukungnya, dan zombie-zombie sebagai pelayannya. Sepertinya hal itu berkaitan dengan isi surat ketiga, yaitu mengganti Askoriwimi lama dengan yang baru. Aku yakin dia akan menghabisi siapa saja yang tidak mendukungnya,” jawabku lagi.

“Ada kemungkinan dia akan membuat zombie-zombie baru dari setiap orang yang dibunuhnya,” tambah Letu.


Untuk kedua kalinya kami tercengang mendengar keterangan dari Letu. Semua argumen yang diberikannya benar-benar masuk akal.

“Berarti dia tidak perlu khawatir membunuh setiap warga yang menentangnya. Sebab dengan membunuh satu orang musuh, dia akan memperoleh satu orang pelayan yang akan mematuhinya secara mutlak,” kata Gudi.

“Benar sekali Pak. Dia adalah orang sangat fanatik akan zombie. Dia ingin menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, lalu menjadi raja atas mayat-mayat tersebut. Meskipun demikian, dia cukup rasional. Dia tahu bahwa menghidupkan kembali orang-orang mati adalah suatu hal yang tidak mungkin. Karena itu, konsep yang dibuatnya adalah bagaimana cara menggerakkan kembali tubuh-tubuh yang telah mati tersebut hanya apabila diberikan perintah olehnya. Setidaknya, itulah dia ceritakan dulu kepadaku,” kata Letu.

“Jadi, dia memang sahabatmu dulu?” tanyaku.

“Sepertinya begitu. Sahabat lamaku yang tergila-gila akan zombie, Valen Norka.”


to be continued


Chapter 17: Old Friends Reunion

Chapter 15: Zombie Attack

Surat ketiga yang dikirimkan oleh sang pengirim misterius itu benar-benar membuat kami gempar. Selama ini belum ada seorang kriminal pun yang memiliki tujuan untuk menghancurkan Askoriwimi. Ditambah lagi tulisan darah yang menurut surat itu adalah darah dari penggali terowongan bawah tanah, semakin memberikan kesan bahwa kriminal yang akan kami hadapi saat ini adalah orang-orang yang tidak boleh dianggap remeh.

“Dengarkan instruksiku! Segera bergerak untuk mengamankan Askoriwimi, terutama dari arah hutan raya! Jalankan instruksi sesuai dengan strategi yang telah kita rancang tadi!” perintah Gudi.

“Baik Pak!”

Pikiranku tidak hanya tertuju kepada keamanan Askoriwimi, tapi juga kepada Nio dan keluarga Tifa. Rumah Tifa cukup dekat dengan hutan raya, sehingga besar kemungkinan mereka termasuk sasaran awal dari serangan tersebut.

“Pak, aku ingin pergi ke hutan raya. Ada beberapa orang yang ingin kulindungi disana,” pintaku.

“Apa kau yakin? Kalau seandainya kau mati, maka AVRO akan kehilangan kepala bidang hubungan masyarakatnya,” jawab Gudi.

“Jika aku mati, maka banyak orang yang bisa menggantikanku. Tapi jika temanku mati, maka tidak ada yang bisa menggantikannya,” ujarku.

Gudi terdiam sejenak. Sepertinya dia masih berat untuk melepasku.

“Berjanjilah untuk tetap hidup,” katanya.

Aku mengangguk sambil tersenyum kecil. Dengan pedang Bintang Merah sebagai senjata utamaku, aku terbang meninggalkan sekretariat AVRO menuju hutan raya.


Udara malam di Askoriwimi saat itu cukup dingin. Angin gunung mulai berhembus kencang dari puncak Goma. Tapi aku yakin dinginnya malam ini akan segera berganti dengan panasnya pertempuran. Sepuluh menit sudah berlalu sejak surat ketiga datang, itu berarti lima menit lagi serangan pertama akan dimulai. Aku terbang lebih cepat agar tidak terlambat sampai di rumah Tifa. Sejumlah Vog lain juga ikut terbang bersamaku menuju hutan raya. Ada diantara mereka yang memegang pedang, panah, dan juga crossbow. Kami semua diselimuti rasa penasaran, seperti apakah lawan yang akan kami hadapi. Mungkin mereka adalah sekelompok kriminal terlatih dengan persenjataan lengkap, mungkin mereka adalah bekas pejuang perang, atau mungkin saja mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu hitam.


Tak lama kemudian aku sampai di rumah Tifa. Aku mendapati Nio beserta keluarga Tifa sedang duduk di depan rumah Tifa. Sepertinya acara makan malam itu belum dimulai. Nio yang menyadari kedatanganku segera menanyaiku.

“Fea, kenapa kau ada disini? Bukankah seharusnya kau mengontrol patroli malam ini?” tanyanya heran.

Dia terlihat semakin heran tatkala melihat serombongan Vog lain yang ikut bersamaku. Biasanya hanya satu atau dua Vog yang berpatroli di daerah itu.

“Kenapa banyak sekali Vog disini?” tanyanya lagi.

“Ceritanya panjang. Sekarang yang penting, kuminta kalian untuk meninggalkan tempat ini sekarang juga. Mengungsilah ke tempat yang jauh dari daerah ini!”

“Tunggu, memangnya apa yang terjadi? Tidak mungkin kami pergi saja tanpa ada alasan yang jelas kan?”

“Tidak lama lagi akan terjadi peperangan di daerah ini. Demi keselamatan kalian, mengungsilah!”


Jawaban terakhirku membuat mereka terdiam. Tifa dan ibunya terlihat ketakutan. Ayah Tifa tampak berpikir keras. Sedangkan Nio menunjukkan raut muka setengah percaya.

“Peperangan? Dengan siapa kalian akan berperang?” tanya Nio.

“Kami juga tidak tahu. Sejak tadi siang kami menerima surat-surat misterius. Surat terakhir mengatakan bahwa mereka akan melakukan serangan, dan itu ditulis dengan darah. Mereka mengatakan darah itu adalah darah para penggali terowongan bawah tanah di hutan raya,” jawabku.

“Hutan raya? Berarti mereka akan muncul dari tempat yang tidak jauh dari sini?”

“Tepat sekali. Karena itu kami semua bergerak ke arah sini.”

“Jika mengungsi, kemana kami harus mengungsi?” tanya ayah Tifa.

“Untuk sementara, pergilah ke kaki gunung. Kumohon, bergeraklah cepat!” jawabku.

“Berapa lama lagi mereka menyerang?” tanya Tifa.

“Hei, lihat ke arah sana! Siapa itu?” seru seorang Vog sambil menunjuk ke arah hutan.


Kami semua memandang ke arah tersebut. Segerombolan orang bersenjata muncul dari arah tersebut. Ada yang membawa kapak, ada yang membawa pedang, dan ada juga yang hanya membawa pisau. Mereka berpakaian seperti orang biasa, tidak terlalu mencolok. Ekspresi mereka datar, atau lebih tepatnya tidak ada ekspresi sedikitpun yang terpancar dari wajah mereka. Mereka sedikit kaku, seperti mayat.

“Apa mereka penduduk desa ini?” tanya Vog yang lain.

“Aku tidak yakin. Tidak ada pemukiman di dalam hutan raya,” jawabku.

“Apakah mereka yang mengirim surat itu?” tanya Tifa.

“Mungkin saja, tapi kita harus memastikan bahwa itu memang mereka,” jawabku.

Untuk mengurangi resiko diserang, aku pun terbang ke arah mereka. Mereka memandangiku yang semakin mendekati mereka. Tapi tetap saja pandangan itu dingin, tanpa ekspresi.

“Aku Fea Edu, anggota Askoriwimi Vog Ranger Organization. Aku ingin kalian melaporkan identitas kepadaku,” seruku dari udara.

Tidak ada jawaban dari mereka. Aku merasa sedang berbicara di hadapan orang-orang yang tidak punya lagi jiwa manusianya.

“Sekali lagi, jawab pertanyaanku! Sebutkan identitas kalian!”

Tiba-tiba saja salah satu dari mereka yang bersenjata kapak melemparkan kapaknya kepadaku. Kapak itu berputar di udara dan terbang dengan begitu cepatnya ke arahku. Aku mengayunkan pedang Bintang Merah untuk menangkis lemparan kapak itu. Kapak itu beradu dengan pedangku, kemudian jatuh dan menancap dengan mantap di tanah.

“FEA! Kau baik-baik saja?” seru Nio.

Tanpa dikomando, Vog lain segera berlari menuju mereka untuk menyerang. Aku terbang kembali ke pasukan, untuk ikut menyerang secara bersama. Orang-orang itu memang tidak bicara, tapi sepertinya mereka tahu apa yang harus dilakukannya. Mereka pun berlari ke arah kami dengan menghunuskan senjata masing-masing.


Dalam waktu singkat peperangan telah dimulai. Jumlah kami lebih sedikit dibandingkan mereka, tapi sepertinya kami lebih kuat. Ditambah lagi mereka tidak punya pasukan pemanah, sedangkan kami memiliki itu. Kami menaklukan mereka tanpa mengalami kesulitan yang berarti. Tapi meskipun mereka tidak memiliki kekuatan serang yang besar, daya tahan mereka cukup kuat. Setiap dari mereka yang tumbang akan segera bangkit lagi. Setelah cukup lama, aku mulai merasakan ada sesuatu yang janggal.

“MUNDUR!” teriakku.

Kami semua terbang kembali ke arah rumah Tifa. Semuanya tampak begitu lelah.

“Tidakkah kalian pikir ini janggal? Kita sudah memberikan serangan bertubi-tubi kepada mereka, tapi kenapa mereka tetap bisa bangkit?” ucapku terengah-engah.

“Aku juga merasa begitu. Bahkan sepertinya mereka sama sekali tidak merasakan sakit maupun lelah,” jawab seorang Vog.

“Kalau begini keadaannya, kita bisa kehabisan tenaga dan dikalahkan oleh mereka,” kataku.

“Fea! Siapa mereka sebenarnya? Kenapa mereka tidak bisa mati?” tanya Nio.

“Aku tidak tahu. Sebaiknya sekarang kau melarikan diri bersama Tifa dan orangtuanya. Aku akan menyuruh empat Vog untuk mengantar kalian,” jawabku.


Aku kemudian menginstruksikan empat Vog untuk membawa mereka terbang ke kaki gunung. Sementara itu, orang-orang bersenjata tadi terus mendekati kami. Kami bersiap untuk menyerang kembali. Namun, tiba-tiba langkah kaki orang-orang tadi terhenti. Tidak ada alasan yang jelas kenapa mereka berhenti, namun menurutku ada suatu perintah yang diberikan kepada mereka sehingga mereka berhenti.

“Kerja yang bagus, Askoriwimi Vog Ranger Organization. Kalian benar-benar sigap menanggapi surat ancaman dariku.”

Mataku tertuju kepada seorang laki-laki yang muncul dari dalam hutan. Dia berbeda dari orang-orang bersenjata ini. Dia mengenakan jas coklat yang berpadukan dengan celana berwarna sama dengan jasnya. Dia tersenyum, meskipun sangat jelas bahwa senyumnya tidak bermakna positif bagi kami.

“Siapa kau?” tanyaku.

“Aku adalah orang yang mengirimkan surat ancaman kepada organisasimu. Aku akan menepati janjiku di dalam surat itu, yaitu mengganti Askoriwimi lama dengan Askoriwimi baru. Askoriwimi dengan aku sebagai rajanya, rakyat yang mendukung kekuasaanku, dan zombie-zombie ini sebagai pelayanku! Hahahahaha!” jawabnya panjang.

“Apa? Zombie?”

“Benar! Mereka adalah zombie-zombie buatanku. Tidak ada gunanya kalian menyerang mereka, karena mereka hanyalah mayat hidup. Mereka akan selalu bangkit lagi setiap kalian menjatuhkan mereka.”

“Bagaimana cara kau melakukannya?”

“Hahaha, itu bukan urusanmu! Baiklah, aku akan menunjukkan sesuatu yang menarik kepadamu! Zombie, keluarlah!”

Tiba-tiba saja keluarlah zombie-zombie dengan jumlah yang sangat banyak dari dalam hutan. Aku tidak bisa menghitung jumlahnya. Mungkin sekitar lima ratus, tujuh ratus, seribu, seribu lima ratus, atau bahkan dua ribu. Kali ini kami benar-benar kalah jumlah. Kami yang hanya dua puluh orang, harus berhadapan dengan zombie yang jumlahnya hampir dua ribu orang.


to be continued


Chapter 16: Letu's Explanation