Chapter 13: Digger Race

Dua pasang mata lain yang berada di dalam sel ini melirik kepadaku. Tatapan dari keempat bola mata itu dipenuhi dengan pertanyaan. Hal itu didukung dengan ekspresi heran yang tampak sangat jelas dari kedua wajah mereka.

“Fred, bagaimana mungkin kau bisa tahu cara keluar dari tempat ini? Kita bahkan belum satu jam berada di dalam sel ini,” tanya Awald sangsi.

“Coba kau baca tulisan di dinding itu,” ujarku.

“Kebebasan bahkan lebih dalam daripada mimpi-mimpimu,” ujar Awald membaca tulisan itu.

“Apakah itu kata-kata mutiara orang-orang di desa ini?” tanya Joey.

“Tidakkah kau menyadari maksud tersembunyi dari kata-kata itu?” ujarku.

“Aku tidak mengerti maksudmu Fred,” sahut Awald.

“Kebebasan berarti keluar dari penjara ini. Sedangkan untuk mimpi, kau mengalaminya saat tidur. Kau tidur di atas tempat tidur ini kan? Jika kebebasan itu lebih dalam daripada mimpimu, berarti kebebasan itu lebih dalam dari tempat tidurmu. Jawabannya ada di bawah tempat tidur ini,” jelasku.

Awald bergegas memeriksa bagian bawah tempat tidur itu. Joey sepertinya telah melupakan rasa sakitnya, sehingga dia juga ikut-ikutan memeriksanya.

“Tuas inikah yang kau maksud?” tanya Awald.

“Coba kau tarik tuas itu,” perintahku.

Awald menarik tuas hitam kecil yang ukurannya hanya sebesar pulpen itu. Posisi tuas yang sebelumnya berada di kiri kali ini telah berpindah ke kanan. Tiba-tiba terjadi sesuatu pada lantai sel ini. Lantai seluas kira-kira satu meter persegi yang berada di bawah tulisan dinding itu turun sekitar dua meter. Gerakannya begitu halus, sehingga tidak menimbulkan getaran dan kebisingan yang menarik perhatian. Sekarang lantai itu telah berubah menjadi sebuah lubang persegi. Di dalam lubang itu ternyata ada sebuah terowongan kecil setinggi satu meter yang mengarah ke suatu tempat di bawah sel ini.

“Menakjubkan,” gumamku.


Kami bertiga masuk ke dalam lubang itu dengan bergantian. Awald mengambil giliran pertama. Dia memeriksa apa yang ada di balik terowongan satu meter itu. Ternyata ada bidang miring licin yang bisa digunakan sebagai perosotan di balik terowongan itu. Awald meluncurkan dirinya pada bidang miring itu. Aku mengambil giliran kedua diikuti oleh Joey pada giliran ketiga. Perosotan itu membawa kami pada sebuah ruangan yang disinari oleh cahaya lilin-lilin yang tergantung di dinding tanahnya. Kali ini kami tidak hanya bertiga. Ada seorang laki-laki tua yang sepertinya telah menunggu kedatangan kami. Rambut dan janggut panjangnya telah didominasi oleh uban. Tidak ada yang janggal darinya, kecuali dua hal. Hal pertama adalah dia bukan seorang manusia burung. Hal kedua adalah dia tinggal di tempat seperti ini.

“Selamat datang di kediamanku, para manusia!” sambutnya.

“Kau siapa?” tanya Joey.

Lelaki tua itu menarik sebuah tuas yang ada di dinding rumahnya. Getaran-getaran halus kurasakan dari balik dinding rumah bawah tanah ini.

“Tuas yang kutarik ini berfungsi untuk menutup jalan rahasia yang telah kalian buka tadi. Perkenalkan, namaku Didu Hulovana. Kau boleh memanggilku Didu,” katanya memperkenalkan diri.

“Aku Fred Somer. Temanku yang sebelah kanan bernama Joey Somer, sedangkan yang sebelah kiri bernama Awald Bied,” kataku memperkenalkan kami semua.

“Apakah kau yang membuat jalan rahasia ini?” tanya Awald.

“Ya, aku membuatnya dulu saat aku masih muda. Aku masih punya banyak hal untuk diceritakan kepada kalian. Duduklah, aku akan membuatkan kopi untuk kalian,” tawarnya.


Kami duduk pada sebuah meja bundar yang digunakan untuk makan. Meja ini terbuat dari kayu yang dipoles begitu rapi. Tidak ada kursi, sehingga kami duduk di lantai. Didu menuangkan kopi panas yang berada di dalam sebuah teko plastik berwarna bening ke dalam empat cangkir keramik bercat putih. Dia menyajikan kopi itu kepada masing-masing kami.

“Minumlah selagi masih panas. Kalian perlu mencoba kopi terbaik khas Ronder ini,” katanya.

“Terima kasih Pak,” ujarku.

Aku meneguk kopi panas itu. Aromanya yang wangi tidak membohongi rasanya yang begitu nikmat. Ronder memang terkenal dengan kopinya yang sangat berkualitas. Ini adalah pertama kalinya aku menikmati langsung kenikmatan yang selama ini hanya kubaca di artikel media massa.

“Kalian masih mau mendengar ceritaku kan?” tawarnya.

“Iya.”

“Sebelumnya aku akan memperkenalkan kepadamu tentang siapa aku sebenarnya. Meskipun kita sama-sama manusia, tapi ras kita berbeda. Kami biasa menyebut kalian dengan istilah “manusia atas”, sedangkan untuk diri kami sendiri kami memakai istilah “manusia bawah”,” jelasnya.

“Kenapa kau tahu kalau kami adalah manusia atas?” tanya Joey.

“Usiaku sudah enam puluh empat tahun. Aku sudah cukup berpengalaman untuk membedakan mana manusia atas dan manusia bawah.”

“Apakah ada perbedaan manusia atas dengan manusia bawah secara fisik?” tanyaku.

“Tidak ada perbedaan yang mencolok antara manusia atas dengan manusia bawah. Hanya saja, rata-rata manusia bawah memiliki tubuh yang lebih kekar dibandingkan manusia atas, karena manusia bawah adalah ras penggali jalan bawah tanah.”

“Jadi jalan itu adalah buatan manusia bawah?”

“Benar sekali. Manusia bawah adalah pembangun terhebat. Populasi kami hanya ada di negara Nirta. Sekarang beberapa orang pemuda manusia bawah sedang membangun jalan bawah tanah yang menghubungkan kota Grand Nirta dengan kota Mamaga. Jika proyek ini selesai, maka kami telah menyelesaikan proyek yang sudah kami kerjakan sejak tiga ratus tahun yang lalu, yaitu membangun jalan yang menghubungkan setiap kota dan desa di Nirta,” jelasnya lagi.

“Kalian sudah mengerjakan proyek ini selama tiga ratus tahun? Kenapa tidak pernah ada publikasi ke media massa manusia atas tentang jalan bawah tanah ini?” tanyaku.

“Sebelum kau menjawab pertanyaan itu, maukah menjawab pertanyaanku terlebih dahulu? Apakah kau memang sengaja membantu para manusia yang masuk penjara untuk kabur?” tanya Awald.

“Baiklah, aku akan menjawab pertanyaanmu terlebih dahulu. Dulu aku juga pernah masuk penjara karena kasus pencurian. Di penjara ini manusia atas dan manusia bawah dianggap sama, sehingga aku menempati sel yang barusan kalian tempati. Kata mutiara yang kau baca di dinding sel itu sudah ada sebelum aku masuk penjara, dan hal itulah yang menginspirasiku untuk membuat jalan ini. Setelah bebas, aku membuat rumah disini dan juga jalan rahasia untuk kabur dari penjara itu. Sayangnya sudah tiga puluh tahun aku membuat jalan ini, tidak ada seorang tahanan pun yang menggunakannya. Entah karena mereka tidak menyadarinya atau memang tidak ada tahanan, aku tidak tahu. Yang jelas, kalian adalah orang pertama yang menggunakan jalan rahasia ini,” jawabnya.


Didu menghabiskan kopi yang sudah mendingin di cangkirnya. Aku masih menikmati aroma kopi itu sekalipun panas kopi di cangkirku juga sudah hilang karena pengaruh dinginnya ruangan ini. Ternyata manusia bawah tidak hanya menggunakan sistem sirkulasi udara itu pada jalan bawah tanah, tetapi juga pada rumah bawah tanah seperti ini. Joey terlihat sedikit kesakitan saat meminum kopi itu. Mungkin ini disebabkan oleh pukulan-pukulan yang diterimanya dari Zappa. Sedangkan Awald baru memulai tegukan keduanya. Dia kelihatannya tertarik dengan cerita dari Didu.

“Baiklah Pak. Sekarang coba ceritakan kepadaku kenapa jalan bawah tanah tidak pernah dipublikasikan ke media massa?”

Didu berdiri dari duduknya dan berjalan ke lemari kayu yang ada di belakangnya. Dia mengambil selembar kertas besar dari dalam lemari. Kertas itu lalu dikembangkan di atas meja. Pada kertas itu tergambar peta Nirta. Ada beberapa titik merah yang mewakili kota-kota dan desa-desa di Nirta. Titik-titik itu dihubungkan dengan jalan berwarna merah. Di legenda peta itu tertulis bahwa simbol jalan berwarna merah menandakan jalan bawah tanah.

“Ini adalah jalan bawah tanah yang sudah berhasil dibangun manusia bawah sampai saat sekarang ini. Cukup banyak bukan? Kalau boleh aku meminta pendapatmu, menurutmu kenapa tidak pernah ada berita tentang jalan ini?” tanyanya.

“Para ahli geologi tidak menemukan jalan ini. Bisa jadi karena struktur tanah di sekeliling jalan ini cukup keras, sehingga penelitian tidak dapat dilakukan,” jawabku.

“Jawabanmu cukup logis. Tapi untuk kau ketahui, para ahli geologi mengetahui jalan ini,” jawab Didu.

Aku terkejut mendengar jawaban itu. Jika ahli geologi tahu tentang jalan ini, kenapa aku tidak pernah mendapatkan informasinya? Apakah para ahli itu sengaja menyembunyikan kebenaran ilmu pengetahuan? Ataukah zaman sudah terlalu maju sehingga aku ketinggalan informasi?

“Para ahli geologi sengaja menyembunyikan temuan berupa jalan bawah tanah ini. Ini adalah kesepakatan yang sudah dibuat secara internasional,” kata Didu.

“Kenapa demikian? Apa latar belakang semua ini?” tanyaku.

“Tidak hanya sesama ahli geologi yang membuat kesepakatan. Tapi semua ahli yang ada di dunia internasional juga diberikan kode etis yang sama. Latar belakang dari semua ini adalah peristiwa tiga ratus tahun yang lalu yang sejarahnya juga sengaja disembunyikan,” jawabnya.

“Sejarah tersembunyi tiga ratus tahun yang lalu?” tanya Joey.

“Aku akan menceritakan sejarah itu kepada kalian. Tapi kalian dilarang keras menceritakannya kembali kepada orang lain, apalagi sampai mempublikasikannya ke media massa. Kalian mengerti?”

“Kami mengerti!”


to be continued


Chapter 14: 300 Years Ago

Chapter 12: He Will Save His Sister

Dua orang manusia burung itu mendarat di depan kami. Kali ini aku bisa melihat mereka dengan lebih jelas lagi. Kepala mereka benar-benar seperti burung. Mereka memiliki paruh. Bulu-bulu yang tumbuh di kepala dan leher mereka sudah membuatku yakin bahwa sebagian besar tubuh mereka ditumbuhi bulu-bulu itu. Struktur tangan mereka sama saja dengan tangan manusia biasa. Mereka tidak memiliki cakar yang tajam, tetapi memiliki ruas-ruas tangan yang jelas seperti kaki burung. Manusia burung yang di sebelah kiri memiliki tipe elang berbulu hitam, sedangkan yang di sebelah kanan memiliki tipe elang berbulu putih. Mereka memakai seragam seperti polisi.

“Apa maksudmu kami ditangkap?” tanya Joey.

“Apakah manusia sebodoh itu sehingga mereka tidak mengerti kalau mereka ditangkap?” bentak elang putih.

“Apa kau bilang?” balas Joey.

Elang putih itu langsung meninju pipi kanan Joey. Satu kali pukulan itu cukup untuk membuat Joey terjatuh.

“JANGAN COBA-COBA MEMBENTAK KAMI! STATUS KALIAN SEKARANG ADALAH KRIMINAL! KALIAN HARUS DITANGKAP!” bentak elang putih.

“Bisakah kita bicarakan ini baik-baik?” pintaku.

Elang hitam melayangkan pukulannya ke arahku. Tapi aku dapat menangkis pukulan itu.

“Maaf, aku tidak suka kekerasan. Silakan bawa kami ke tempat yang kau inginkan. Aku yakin kita bisa bicara baik-baik disana,” tegasku.

Sepertinya kata-kataku bisa meredam emosi mereka. Tidak ada tanda-tanda yang terlihat dari ekspresi mereka bahwa mereka akan memukulku kembali.

“Baiklah, bawa teman-temanmu menaiki mobil itu!” perintahnya.

Aku mencabut panah dari kaki Awald dan membalut lukanya dengan kain putih yang ada di dalam tasku. Kemudian aku membantunya berjalan ke arah mobil itu. Joey sudah bangkit kembali dan berjalan sendiri meskipun masih sempoyongan. Pada mobil bak terbuka dengan dua bangku yang saling memunggungi di baknya itu tertulis Kepolisian Willyvinia. Tulisan itu memberi petunjuk bahwa mobil itu digunakan untuk membawa kriminal ke kantor polisi. Dengan kata lain, dua orang manusia burung ini adalah polisi.


Elang putih mengendarai mobil ini, sedangkan elang hitam menjaga kami di belakang. Posisi mereka berdua sebagai penjaga gerbang Willyvinia digantikan oleh dua orang polisi lainnya. Sisi positif dari penangkapan ini, kami bisa menikmati pemandangan Willyvinia meskipun dalam suasana yang menegangkan. Tampak manusia-manusia burung lain berlalu lalang di jalanan desa. Setiap kali mobil ini lewat di hadapan mereka maka mobil ini akan menjadi pusat perhatian. Tentu sebenarnya bukan mobil ini yang menjadi pusat perhatian, melainkan kami yang ada di atasnya. Awald sepertinya tidak merasakan lagi rasa sakit di kakinya karena ia memakan buah gogo setelah penembakan itu. Joey juga memakan buah gogo, dan sepertinya efek pukulan elang putih tadi juga sudah hilang dari kepalanya. Aku tidak ikut memakan buah gogo, karena aku tidak ingin terlihat kesakitan di hadapan mereka. Sebenarnya tanganku mati rasa akibat menangkis pukulan elang hitam tadi. Pukulannya sangat kuat, lebih kuat daripada pukulan manusia biasa.

“Boleh aku menanyakan sesuatu kepadamu?” pinta Joey.

“Apa?” jawabnya tegas.

“Siapa namamu?” tanya Joey.

“Baca sendiri di dada kanan seragamku.”

“Cesnael,” Joey membaca nama di seragamnya.

“Kalau temanmu itu?” tanyaku.

“Zappa,” jawabnya.

“Kalian bisa terbang kan? Kenapa masih mengendarai mobil?” tanya Joey.

“Terbang itu butuh banyak energi. Kami tidak ingin menghabiskan energi sia-sia hanya untuk mengurusi orang-orang seperti kalian,” jawabnya tanpa ekspresi.

“Aku ingin menanyakan sesuatu padamu!” pinta Awald.

“Aku tidak punya waktu lagi untuk melayani pertanyaan kalian. Diamlah sampai kita sampai di kantor polisi atau kuhabisi kalian sekarang juga!” ancamnya.

Suasana menjadi hening. Tidak ada lagi pertanyaan yang kami lontarkan kepada Cesnael.


Dua puluh menit kemudian kami sampai di kantor polisi Willyvinia. Kami semua turun dari mobil. Zappa berjalan di depan kami, sedangkan Cesnael mengawasi kami di belakang agar tidak kabur. Kami memasuki kantor polisi itu dengan pengawasannya yang begitu ketat. Hal pertama yang kuperhatikan saat memasuki kantor ini adalah bagian administrasi. Desa ini tersembunyi di balik kabut, tapi manusia-manusia burung disini sudah menggunakan komputer untuk pekerjaan mereka. Sistem operasi dan program yang mereka gunakan juga merupakan produk-produk keluaran terbaru. Hal ini menandakan mereka tidak ketinggalan perkembangan zaman. Aku juga memperhatikan beberapa CCTV yang terpasang di sudut-sudut kantor. Dengan keberadaan mereka yang tidak diketahui, bagaimana cara mereka tidak ketinggalan arus globalisasi? Apakah mereka memproduksi sendiri semua peralatan ini? Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi otakku. Apa yang kulihat saat ini terlalu nyata untuk sebuah mimpi, tapi terlalu tidak masuk akal untuk sebuah kenyataan.


Setelah melalui proses administrasi dan penyitaan barang, Zappa kemudian membawa kami ke dalam sel. Sel kami dipisahkan dengan sel-sel lain yang berisi manusia burung. Kelihatannya sel yang akan kami huni adalah khusus untuk manusia biasa.

“Boleh aku menanyakan satu pertanyaan lagi kepadamu?” pinta Joey.

“Apa lagi yang mau kau tanyakan?” sahut Cesnael.

“Apakah ada seorang gadis yang tertangkap karena memasuki wilayah desa ini?” tanya Joey.

“Tidak ada. Sejak empat bulan yang lalu belum ada seorang pun manusia yang memasuki wilayah ini. Kalian adalah orang-orang pertama setelah empat bulan,” jawab Cesnael.

“Kau serius? Gadis itu tidak dibawa ke desa ini?” tanya Joey kaget.

“Dimana gadis itu hilang?” tanya Zappa.

“Dia terjatuh ke dalam lubang jebakan yang ada di hutan larangan gunung Goma. Dari terowongan bawah tanah yang ada di dalam lubang itulah kami bisa kesini,” jelas Joey.

“Satu hal yang harus kujelaskan kepadamu, kami hanya menangkap pendatang yang memasuki wilayah desa ini secara ilegal.”

“Lalu dimana dia?”

“Kemungkinan besar ia diculik oleh The Levi.”

“The Levi?”

“Mereka adalah kelompok penjahat bawah tanah yang menjadi buronan kepolisian Willyvinia. Mereka memiliki jalan rahasia sendiri di terowongan bawah tanah, sehingga kami kesulitan melacak keberadaan mereka.”

“Aku harus menemukannya! Mohon bebaskan aku!” pinta Joey.

Zappa kembali mendaratkan pukulan yang kuat dari tangannya ke wajah Joey. Tapi kali ini Joey tidak langsung terjatuh begitu saja.

“STATUSMU ADALAH TAHANAN! APAPUN ALASAN YANG KAU BERIKAN TIDAK AKAN MENGUBAH STATUSMU ITU!” bentak Zappa.

“Gadis itu adalah adikku. Aku harus menyelamatkannya! KELUARKAN AKU DARI TEMPAT INI!” bentak Joey.

Zappa yang sudah terpancing emosinya menendang perut Joey sekuat tenaga. Joey terdorong ke belakang dengan kuatnya dan terjatuh.

“Mohon hentikan ini! Tidak ada gunanya kita berkelahi!” teriakku.

Melihat keadaan yang semakin kacau, Cesnael segera membukakan pintu sel untuk kami.

“Kalian bertiga cepat masuk! Ikuti saja hukum yang berlaku di desa ini!” perintahnya.


Aku dan Awald mengangkat Joey yang sudah tidak berdaya ke dalam sel sempit berukuran empat meter kali empat meter ini. Cesnael mengunci sel ini dan pergi bersama Zappa yang sudah naik darah. Kami baringkan Joey di atas tempat tidur yang ada di dalam sel ini. Dia terlihat begitu kesakitan akibat pukulan-pukulan dari Zappa.

“Sakit sekali…,” rintihnya.

“Sudahlah Joey. Sekarang kita turuti saja apa yang mereka inginkan,” ujar Awald.

“Tidak bisa. Aku sangat mencemaskan Rhena,” ucapnya lirih.

“Rhena akan baik-baik saja. Benarkan Fred?” ujar Awald kembali.

Aku tidak menjawab kata-kata Awald. Walaupun Rhena adalah gadis yang kuat, tapi kali ini aku sangat mengkhawatirkannya. Penculiknya adalah orang-orang yang bahkan para polisi manusia burung yang sangat kuat tidak mampu menangkapnya.

“Fred, Awald, kita harus melarikan diri dari tempat ini,” ujar Joey menahan rasa sakit.

“Tapi, bagaimana cara kita melarikan diri? Tidak ada celah di dalam sel ini, dan pintu sel ini sendiri terkunci,” kata Awald.

Joey terkulai lemas mendengarkan jawaban dari Awald. Aku dapat melihat perasaan berkecamuk dari ekspresinya yang sangat galau.

“Rhena, semoga kau tidak apa-apa. Tenanglah, aku akan menyelamatkanmu!” rintih Joey.

Aku kasihan melihat Joey yang sepertinya hampir kehilangan harapan. Segenap kemampuan otakku kukerahkan untuk memikirkan cara keluar dari tempat ini. Ketika sedang berpikir, perhatianku tertuju kepada tulisan-tulisan yang ada pada dinding sel. Tiba-tiba aku menyadari ada sesuatu pada tulisan itu. Aku memeriksa kembali sel ini, dan aku mendapatkan suatu hal.

“Aku tahu cara keluar dari tempat ini,” sahutku sambil tersenyum.


to be continued


Chapter 13: Digger Race

Chapter 11: Underground Passage

Joey mengeluarkan seutas tambang berwarna coklat tua dari dalam tasnya. Tambang itu cukup besar dan kuat. Panjangnya sekitar tiga meter. Joey mengulurkan tambang itu ke dalam lubang.

“Kalian turunlah dulu dengan tali ini. Aku akan memegang tali ini dari atas,” sahut Joey.

Aku mengambil giliran pertama. Kuturuni lubang itu dengan bantuan tali yang dipegangi Joey. Tali itu masih tergantung sekitar satu setengah meter dari permukaan lubang. Tapi itu bukan masalah, karena aku bisa melompat dengan aman dari ketinggian satu setengah meter. Awald menjadi orang kedua yang turun ke lubang ini. Giliran terakhir adalah milik Joey. Karena tidak ada orang lain yang bisa dijadikan sebagai pemegang tambang, maka dia langsung melompat ke dalam lubang itu. Pendaratan yang dilakukannya cukup sempurna, sehingga dia tidak mengalami cedera akibat lompatan itu.

“Ayo kita telusuri jalan ini! Aku yakin Rhena dibawa melalui jalan ini!” seru Joey.

"Nyalakan sentermu, karena di dalam ini cukup gelap," kata Awald.


Kami menelusuri terowongan yang ada di depan kami. Tinggi terowongan itu kira-kira dua meter, dengan lebar sekitar dua meter juga. Permukaan terowongan ini cukup kuat, begitu juga dengan dinding di samping kiri dan kanannya. Jika dilihat dari segi struktur, terowongan ini sepertinya dibuat oleh alam. Tapi jika dilihat dari segi kerapian, terowongan ini sepertinya dibuat oleh manusia, karena terowongan ini memiliki perbandingan-perbandingan matematis yang sangat tepat. Setelah berjalan sekitar dua puluh meter, aku mulai menyadari bahwa terowongan ini hanya sempit di gerbangnya saja. Semakin ke dalam ukurannya semakin luas. Tinggi terowongan di bagian dalam sekitar tiga meter, sedangkan lebarnya mencapai empat meter. Hawa terowongan ini cukup sejuk. Padahal seharusnya dalam keadaan normal terowongan ini cukup pengap meskipun berada di gunung. Aku yakin ada sebuah sistem sirkulasi udara tradisional yang berteknologi tinggi disini.

“Aku yakin terowongan ini buatan manusia. Aku penasaran siapa arsitek di balik semua ini,” gumamku.

“Aku sependapat denganmu. Apakah hutan ini menjadi larangan karena adanya terowongan ini?” tanya Joey.

“Aku belum bisa menjawab pertanyaanmu. Sepertinya masih banyak misteri yang tersimpan disini,” jawabku.


Sudah sekitar tiga puluh menit kami berjalan di terowongan bawah tanah ini. Sejauh ini masih belum terjadi hambatan pada perjalanan kami. Tidak ada jebakan, rintangan, maupun hewan-hewan melata yang berbahaya di terowongan ini. Yang ada hanya hewan-hewan kecil seperti semut, kadal, dan juga tikus tanah. Hambatan pertama yang kami temui adalah sebuah persimpangan di terowongan ini.

“Ada persimpangan disini,” gumam Awald.

“Coba kau lihat papan yang tergantung itu!” seru Joey sambil menunjuk ke sebuah papan yang tergantung di atas gerbang persimpangan sebelah kanan itu.

“Goma Valley, Queenstown,” kataku membaca tulisan pada papan itu.

“Sekarang coba lihat di persimpangan sebelah kiri!” seru Joey.

“Ronder, Willyvinia,” kata Awald.

“Willyvinia? Apa itu?” tanyaku.

“Menurutku papan ini adalah penunjuk jalan seperti yang ada pada jalan tol. Goma Valley, Queenstown, dan Ronder adalah desa-desa yang ada di sekitar gunung ini. Tapi untuk Willyvinia, aku sendiri belum pernah mendengarnya,” kata Awald.

“Mungkinkah Rhena dibawa kesana?” tanya Joey.

“Mungkin. Tapi saat ini ada dua hal yang membuatku penasaran,” jawab Awald.

“Apa saja itu?”

“Rentang waktu antara Rhena terjatuh dengan kita memasuki terowongan ini tidak terlalu lama. Seharusnya kita bisa melihat penculik itu di depan kita. Dengan kata lain, mereka bergerak sangat cepat,” jelas Awald.

“Yang kedua?”

“Kau bisa lihat jejak kaki kita kan? Tapi apa kau melihat jejak kaki selain dari yang punya kita?”

“Tidak, hanya ada jejak kaki kita. Apakah kita salah jalan?” tanyaku.

“Kita sudah melalui jalan yang benar. Persimpangan di sebelah kiri lah yang harus kita lalui,” seru Joey.

“Kenapa kau yakin sekali Joey?” tanya Awald.

“Karena foto ini.”

Joey mengambil sebuah foto yang tercecer di lantai persimpangan terowongan sebelah kiri. Foto yang tidak asing lagi bagiku, yaitu foto masa kecil kami bertiga di sungai Herin. Ekspresi yang kubaca dari wajah Awald pun menunjukkan bahwa ia juga mengerti maksud Joey.

“Ayo kita telusuri terowongan ini lebih dalam lagi!” seru Joey.


Jalan yang ada pada terowongan ini semakin menanjak. Sepertinya hal ini dipengaruhi oleh struktur gunung Goma sendiri. Butuh waktu sekitar satu jam bagi kami untuk menemui persimpangan berikutnya.

“Aku lelah sekali. Perjalanan kita cukup jauh,” ujar Awald.

“Makan saja buah gogo. Siapa tahu rasa lelahmu bisa hilang,” kata Joey.

“Ide yang bagus,” komentar Awald.

Ada dua persimpangan di hadapan kami. Persimpangan sebelah kiri menuju ke Willyvinia, sedangkan yang sebelah kanan menuju ke Ronder. Aku dan Joey sibuk mencari petunjuk pada persimpangan ini, sedangkan Awald membelah dan memakan satu buah gogo.

“Joey, aku menemukan sesuatu disini,” ujarku.

Aku menunjukkan penemuanku pada Joey. Ada sebuah tulisan di dinding persimpangan menuju Willyvinia.

“Tempat bagi mereka yang terpilih.”

“Mereka yang terpilih? Itu tulisan yang ada pada gerbang hutan kan?” seru Awald.

“Benar sekali. Aku cukup yakin kita memang harus menuju ke Willyvinia,” ujar Joey.

“Hei Awald, apa lelahmu hilang karena buah itu?” tanyaku.

“Aku belum merasakan perubahan apa-apa. Buah ini mungkin butuh waktu untuk bereaksi dengan tubuh,” jawab Awald.

“Fred, lebih baik kita juga makan buah ini. Perjalanan kita mungkin masih panjang,” kata Joey.


Aku dan Joey membelah satu buah gogo yang ada di dalam tas kami. Meskipun sangat asam, tapi rasa lelah yang kami rasakan membuat kami kebal dengan rasa asam itu. Kandungan air buah gogo menyegarkan kerongkongan kami yang sejatinya memang butuh air. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju Willyvinia. Efek dari buah gogo mulai terasa di tubuh kami. Rasa lelah yang sudah kami alami sejak mulai perjalanan tadi perlahan mulai menghilang. Sepertinya perkataan neneknya Awald benar, buah ini adalah obat bagi semua penyakit, termasuk kelelahan.

“Awald, benarkah kau belum pernah mendengar tentang Willyvinia?” tanyaku.

“Aku sama sekali tidak tahu tentang nama itu. Penduduk desa pun tidak pernah membicarakan nama itu,” jawab Awald.

“Apakah itu sebuah tempat rahasia yang hanya bisa diakses melalui terowongan ini?” tanya Joey.

“Ya, tempat bagi mereka yang terpilih.”


Perjalanan panjang kami berakhir pada sebuah mulut gua yang kelihatannya juga buatan manusia. Pemandangan yang kami lihat di luar benar-benar sangat menakjubkan. Sebuah desa yang diselimuti oleh kabut putih. Cahaya matahari masih bisa menembus kabut ini meskipun hanya sedikit yang bisa masuk. Lampu-lampu di berbagai sudut desa tampak dari kejauhan tetap dihidupkan di siang hari sebagai penerangan tambahan.

“Kita masih di gunung Goma kan?” tanya Joey.

“Aku tidak tahu Joey. Aku belum pernah melihat daerah ini di gunung Goma,” jawab Awald.

“Apa ada lokasi tertentu di gunung Goma yang selalu ditutupi kabut?” tanyaku.

“Hampir seluruh lokasi di gunung Goma ditutupi oleh kabut tebal. Aku tidak tahu kita sekarang berada di lokasi yang mana,” jawab Awald lagi.

“Ayo kita cari Rhena!” ajak Joey.

“Ayo!” sahut Awald.

Awald terlihat sangat antusias untuk menyelematkan Rhena. Dia segera berlari mendahului kami. Tiba-tiba, saat ia sedang berlari, sebuah benda berkecepatan tinggi melesat ke arah kakinya. Benda itu membuat Awald tergeletak dengan seketika. Dia meringis kesakitan karena benda itu menusuk paha kanannya.

“Pahanya tertusuk panah! Ada yang menyerang kita!” teriak Joey.

Ketika kami berlari untuk menolong Awald, terdengar sebuah suara yang sangat lantang.

“JANGAN BERGERAK! ATAU KALIAN AKAN MENJADI KORBAN BERIKUTNYA!”

Aku melihat ke arah sumber suara yang berada di atas kami. Aku sangat kaget ketika menyadari darimana suara itu berasal. Dua orang manusia bertubuh kekar yang memiliki sayap melayang di atas kami sambil mengepak-ngepakkan sayapnya. Masing-masing dari mereka memegang sebuah crossbow di tangannya.

“Tidak mungkin, manusia burung…,” ujarku terbata-bata.

“Jadi manusia burung itu bukan mitos belaka…,” sahut Awald lemas.

“KALIAN DITANGKAP KARENA MEMASUKI TEMPAT INI SECARA ILEGAL! TEMPAT INI ADALAH DESA WILLYVINIA, DESA PARA MANUSIA BURUNG!”


to be continued


Chapter 12: He Will Save His Sister